Tampilkan postingan dengan label Elektronika. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Elektronika. Tampilkan semua postingan

Penting nya Smoke Detector untuk Daerah Rawan Kebakaran

1
com
Kemarin, di blog adsense sempat saya posting  Jadilah Diri Sendiri . Hari ini saya akan memposting tentang proyek yang saya tangani di kantor. Tadi pagi di ruangan rapat kantor, dibahas tentang bagaimana dilakukan preventif terhadap resiko kebakaran di daerah yang diangap rawan. Sebagai langkah pendeteksian dini, maka perlu ada namanya detektor.
Rekan sekalian mungkin sering melihat di Mall, hotel ada terpasang di atap-atap ruangan persis dekat lampu penerangan ruangan. Yah itulah yang namanya Detektor asap (Smoke Detector). Inilah yang saya akan coba sedikit share ke rekan-rekan, semoga bermanfaat. Untuk text English Please Kick Here.
Rekan bloggers, Perkembangan zaman ditandai dengan berkembangnya industri disemua bidang. Perkembangan tersebut membawa dampak, baik dampak positif maupun dampak negatif. Selain dampak positif seperti kemajuan diberbagai bidang, penggunaan waktu yang efektif dan efisien, peralatan yang modern, juga terdapat dampak negatif yang sering diabaikan oleh kebanyakan orang yaitu tentang keselamatan kerja. Masalah keselamatan kerja memang sangat penting untuk meningkatkan produktifitas tenaga kerja.
Banyak insiden-insiden yang menyangkut keselamatan kerja, salah satunya adalah kebakaran. Kebakaran merupakan suatu insiden akibat dari api yang bekerja tidak pada tempatnya, yang terjadi antara api, bahan bakar, dan oksigen. Reaksi kimia tersebut mengeluarkan panas yang merupakan ancaman bagi kehidupan manusia. 
Ancaman tersebut meliputi :
  1. Habitat atau lingkungan hidup manusia. 
  2. Lingkungan hidup flora dan fauna. 
  3. Kebakaran tersebut merupakan kejadian yang dapat disebabkan oleh beberapa faktor, antara lain :
  • Faktor manusia seperti karena kelalaian, kurang disiplin, dan bentuk kejahatan.
  • Faktor teknologi seperti akibat kurang dilaksanakan pedoman, standar pemakaian produk teknologi dan biasanya karena sifat individual manusia.
  • Faktor alam seperti akibat sampingan dari bencana alam, seperti gempa, erupsi vulkanik gunung berapi, loncatan listrik alam, dan pemampatan udara panas.
Terjadinya masalah kebakaran yang menelan korban jiwa, harta benda serta hilangnya tempat berusaha atau pekerjaan merupakan kejadian yang merugikan. Didalam usaha memperkecil jumlah korban maka unsur-unsur instalasi yang terkait didalam pencegahan kebakaran harus mampu menggerakkan segala potensi yang ada untuk memberikan pertolongan dan penyelamatan secara cepat dan tepat ke tempat peristiwa. Agar berhasil berdaya guna dalam usahanya, maka perlu dimantapkan organisasi dan manajemen serta ketrampilan personil maupun sarana dan prasarana yang memadai.
 Mengingat hal-hal tersebut maka selain Alat Pemadam Api Ringan (APAR) yang dapat dibawa, instalasi pemadam api seperti Detector Alarm System sangat mutlak diperlukan untuk sebagai tanda peringatan pertama terjadinya kebakaran. Selain peralatan, dukungan personil yang terlatih dan terampil dengan dukungan sarana keamanan yang cukup untuk mencapai tujuan pencegahan dan penanggulangan yang akurat dan ditunjang dengan organisasi dalam suatu sistem manajemen yang baik.
1. Fire Alarm
Pada praktek ini menggunakan jenis FIRE ALARM BUSH BUTTON BREAKABLE BY FINGER. Cara kerjanya yaitu apabila akan mengoperasikannya harus terlebih dahulu memecahkan kaca pengamannya kemudian tombol ditekan maka secara otomatis mengirimkan sinyal ke control panel. Lalu bel/alarm yang ada di lokasi penempatannya akan berbunyi. Alat ini dipasang di dinding ruangan.
2. Alarm Bell
Jenis Alarm Bell yang dipraktekan adalah ALARM BELL H.C. DC 24V HC – 624 DC – 24V ISMA MOTOR BELL. Cara kerjanya yaitu apabila ada kebakaran, maka dari control panel akan mengirimkan sinyal ke alarm bell. Sehingga alarm bell dapat berbunyi.
3. Heat Detector Type Fixed Temperature
Cara kerjanya adalah dengan perubahan temperatur ruangan dan suhu yang naik mencapai suhu tertentu, sehingga element pendeteksi akan mengirimkan sinyal ke control panel dan membunyikan suatu alarm.
4. Heat Detector Type Rate of Rise
Mekanisme kerjanya yaitu bila suhu ruangan yang dilindungi rate of rise detector mengalami kenaikan suhu sebesar 100C setiap menitnya, maka akan didapatkan suatu tenaga mekanik yang dipergunakan untuk menggerakkan alat penyambung yang digunakan pada sistem alarm. Sinyal tersebut dikirim ke control panel, sehingga alarm dapat berbunyi.
5. Smoke Detector
Cara kerjanya adalah dengan memanfaatkan asap yang dikeluarkan oleh suatu insiden kebakaran. Alat tersebut merespon asap dan kemudian sinyalnya dikirimkan ke control panel. Pada control panel sinyal tersebut diteruskan ke bel alarm, sehingga alarm berbunyi.
6. Control Panel
Cara kerjanya yaitu jika detektor mendeteksi adanya kebakaran ataupun sprinkler, automatic fire extinguisher, dan hydrant bekerja maka sinyal itu akan dikirimkan ke control panel sebagai data masukan (input data). Kemudian control panel akan mengolah, menyeleksi, dan mengevaluasi data tersebut yang hasilnya merupakan data keluaran (output data) yang berisi informasi tentang lokasi kebakaran yang ditampilkan pada announciator dan secara otomatis akan mengaktifkan atau membunyikan bel/alarm.

Cara Kerja
1. Jika terjadi kebakaran, maka alat merespon melalui Heat Detector Type Fixed Temperature, Heat Detector Type Rate Of Rise dan Smoke Detector.
2. Kemudian dari Heat Detector Type Fixed Temperature, Heat Detector Type Rate Of Rise dan Smoke Detector disalurkan ke control panel.
3. Kemudian dari control panel respon diteruskan ke Fire Alarm, Alarm Bell dan Fire Lamp Detector untuk memberikan peringatan pertama terjadinya suatu kebakaran.

   Demikianlah kurang lebih paper yang saya sempat buat dan semoga ada manfaatnya buat rekan untuk menambah khasanah berpikir rekan.

Mengenal Komponen Instrumen "THYRISTOR"

0
com
Thyristor berakar kata dari bahasa Yunani yang berarti ‘pintu'. Dinamakan demikian barangkali karena sifat dari komponen ini yang mirip dengan pintu yang dapat dibuka dan ditutup untuk melewatkan arus listrik. Ada beberapa komponen yang termasuk thyristor antara lain PUT (programmable uni-junction transistor), UJT (uni-junction transistor ), GTO (gate turn off switch), photo SCR dan sebagainya. Namun pada kesempatan ini, yang akan kemukakan adalah  komponen-komponen thyristor yang dikenal dengan sebutan SCR (silicon controlled rectifier), TRIAC dan DIAC. Pembaca dapat menyimak lebih jelas bagaimana prinsip kerja serta aplikasinya.
Struktur Thyristor
Ciri-ciri utama dari sebuah thyristor adalah komponen yang terbuat dari bahan semiconductor silicon. Walaupun bahannya sama, tetapi struktur P-N junction yang dimilikinya lebih kompleks dibanding transistor bipolar atau MOS. Komponen thyristor lebih digunakan sebagai saklar (switch) ketimbang sebagai penguat arus atau tegangan seperti halnya transistor. 
 
Gambar-1 : Struktur Thyristor

Struktur dasar thyristor adalah struktur 4 layer PNPN seperti yang ditunjukkan pada gambar-1a. Jika dipilah, struktur ini dapat dilihat sebagai dua buah struktur junction PNP dan NPN yang tersambung di tengah seperti pada gambar-1b. Ini tidak lain adalah dua buah transistor PNP dan NPN yang tersambung pada masing-masing kolektor dan base. Jika divisualisasikan sebagai transistor Q1 dan Q2, maka struktur thyristor ini dapat diperlihatkan seperti pada gambar-2 yang berikut ini.
Gambar-2 : visualisasi dengan  transistor
Terlihat di sini kolektor transistor Q1 tersambung pada base transistor Q2 dan sebaliknya kolektor transistor Q2 tersambung pada base transistor Q1.  Rangkaian transistor yang demikian menunjukkan adanya loop penguatan arus di bagian tengah. Dimana diketahui bahwa Ic = b Ib, yaitu arus kolektor adalah penguatan dari arus base. 
Jika misalnya ada arus sebesar Ib yang mengalir pada base transistor Q2, maka akan ada arus Ic yang mengalir pada kolektor Q2. Arus kolektor ini merupakan arus base Ib pada transistor Q1, sehingga akan muncul penguatan pada pada arus kolektor transistor Q1. Arus kolektor transistor Q1 tdak lain adalah arus base bagi transistor Q2. Demikian seterusnya sehingga makin lama sambungan PN dari thyristor ini di bagian tengah akan mengecil dan hilang. Tertinggal hanyalah lapisan P dan N dibagian luar. 
Jika keadaan ini tercapai, maka struktur yang demikian todak lain adalah struktur dioda PN (anoda-katoda) yang sudah dikenal. Pada saat yang demikian, disebut bahwa thyristor dalam keadaan ON dan dapat mengalirkan arus dari anoda menuju katoda seperti layaknya sebuah dioda. 
Gambar-3 : Thyristor diberi tegangan
Bagaimana kalau pada thyristor ini kita beri beban lampu dc dan diberi suplai tegangan dari nol sampai tegangan tertentu seperti pada gambar 3. Apa yang terjadi pada lampu ketika tegangan dinaikkan dari nol. Ya betul, tentu saja lampu akan tetap padam karena lapisan N-P yang ada ditengah akan mendapatkan reverse-bias (teori dioda). Pada saat ini disebut thyristor dalam keadaan OFF karena tidak ada arus yang bisa mengalir atau sangat kecil sekali. Arus tidak dapat mengalir sampai pada suatu tegangan reverse-bias tertentu yang menyebabkan sambungan NP ini jenuh dan hilang. Tegangan ini disebut tegangan breakdown dan pada saat itu arus mulai dapat mengalir melewati thyristor sebagaimana dioda umumnya. Pada thyristor tegangan ini disebut tegangan breakover Vbo.
SCR
Telah dibahas, bahwa untuk membuat thyristor menjadi ON adalah dengan memberi arus trigger lapisan P yang dekat dengan katoda. Yaitu dengan membuat kaki gate pada thyristor PNPN seperti pada gambar-4a. Karena letaknya yang dekat dengan katoda, bisa juga pin gate ini disebut pin gate katoda (cathode gate). Beginilah SCR dibuat dan simbol SCR digambarkan seperti gambar-4b. SCR dalam banyak literatur disebut Thyristor saja.
Gambar-4 : Struktur SCR
Melalui kaki (pin) gate tersebut memungkinkan komponen ini di trigger menjadi ON, yaitu dengan memberi arus gate.  Ternyata dengan memberi arus gate Ig yang semakin besar dapat menurunkan tegangan breakover (Vbo) sebuah SCR. Dimana tegangan ini adalah tegangan minimum yang diperlukan SCR untuk menjadi ON. Sampai pada suatu besar arus gate tertentu, ternyata akan sangat mudah membuat SCR menjadi ON. Bahkan dengan tegangan forward yang kecil sekalipun. Misalnya 1 volt saja atau lebih kecil lagi. Kurva tegangan dan arus dari sebuah SCR adalah seperti yang ada pada gambar-5 yang berikut ini.

Gambar-5 : Karakteristik kurva I-V SCR 
Pada gambar tertera tegangan breakover Vbo, yang jika tegangan forward SCR mencapai titik ini, maka SCR akan ON. Lebih penting lagi adalah arus Ig yang dapat menyebabkan tegangan Vbo turun menjadi lebih kecil. Pada gambar ditunjukkan beberapa arus Ig dan korelasinya terhadap tegangan breakover. Pada datasheet SCR, arus trigger gate ini sering ditulis dengan notasi IGT (gate trigger current). Pada gambar ada ditunjukkan juga arus Ih yaitu arus holding yang mempertahankan SCR tetap ON. Jadi agar SCR tetap ON maka arus forward dari anoda menuju katoda harus berada di atas parameter ini.
Sejauh ini yang dikemukakan adalah bagaimana membuat SCR menjadi ON. Pada kenyataannya, sekali SCR mencapai keadaan ON maka selamanya akan ON, walaupun tegangan gate dilepas atau di short ke katoda. Satu-satunya cara untuk membuat SCR menjadi OFF adalah dengan membuat arus anoda-katoda turun dibawah arus Ih (holding current). Pada gambar-5 kurva I-V SCR, jika arus forward berada dibawah titik Ih, maka SCR kembali pada keadaan OFF. Berapa besar arus holding ini, umumnya ada di dalam datasheet SCR. 
Cara membuat SCR menjadi OFF tersebut adalah sama saja dengan menurunkan tegangan anoda-katoda ke titik nol. Karena inilah SCR atau thyristor pada umumnya tidak cocok digunakan untuk aplikasi DC. Komponen ini lebih banyak digunakan untuk aplikasi-aplikasi tegangan AC, dimana SCR bisa OFF pada saat gelombang tegangan AC berada di titik nol.
Ada satu parameter penting lain dari SCR, yaitu VGT. Parameter ini adalah tegangan trigger pada gate yang menyebabkab SCR ON. Kalau dilihat dari model thyristor pada gambar-2, tegangan ini adalah tegangan Vbe pada transistor Q2. VGT seperti halnya Vbe, besarnya kira-kira 0.7 volt. Seperti contoh rangkaian gambar-8 berikut ini sebuah SCR diketahui memiliki IGT = 10 mA dan VGT = 0.7 volt. Maka dapat dihitung tegangan Vin yang diperlukan agar SCR ini ON adalah sebesar :
Vin = Vr + VGT
Vin = IGT(R) + VGT = 4.9 volt  
Gambar-8 : Rangkaian SCR
TRIAC
Boleh dikatakan SCR adalah thyristor yang uni-directional, karena ketika ON hanya bisa melewatkan arus satu arah saja yaitu dari anoda menuju katoda. Struktur TRIAC sebenarnya adalah sama dengan dua buah SCR yang arahnya bolak-balik dan kedua gate-nya disatukan. Simbol TRIAC ditunjukkan pada gambar-6. TRIAC biasa juga disebut thyristor bi-directional.
Gambar-6 : Simbol TRIAC
TRIAC bekerja mirip seperti SCR yang paralel bolak-balik, sehingga dapat melewatkan arus dua arah. Kurva karakteristik dari TRIAC adalah seperti pada gambar-7 berikut ini.
Gambar-7 : Karakteristik kurva I-V TRIAC
Pada datasheet akan lebih detail diberikan besar parameter-parameter seperti  Vbo dan -Vbo, lalu IGT dan -IGT, Ih serta -Ih dan sebagainya. Umumnya besar parameter ini simetris antara yang plus dan yang minus. Dalam perhitungan desain, bisa dianggap parameter ini simetris sehingga lebih mudah di hitung.
DIAC
Kalau dilihat strukturnya seperti gambar-8a, DIAC bukanlah termasuk keluarga thyristor, namun prisip kerjanya membuat ia digolongkan sebagai thyristor. DIAC dibuat dengan struktur PNP mirip seperti transistor. Lapisan N pada transistor dibuat sangat tipis sehingga elektron dengan mudah dapat menyeberang menembus lapisan ini. Sedangkan pada DIAC, lapisan N di buat cukup tebal sehingga elektron cukup sukar untuk menembusnya. Struktur DIAC yang demikian dapat juga dipandang sebagai dua buah dioda PN dan NP, sehingga dalam beberapa literatur DIAC digolongkan sebagai dioda.
Gambar-8 : Struktur dan simbol DIAC
Sukar dilewati oleh arus dua arah, DIAC memang dimaksudkan untuk tujuan ini. Hanya dengan tegangan breakdown tertentu barulah DIAC dapat menghantarkan arus. Arus yang dihantarkan tentu saja bisa bolak-balik dari anoda menuju katoda dan sebaliknya. Kurva karakteristik DIAC sama seperti TRIAC, tetapi yang hanya perlu diketahui adalah berapa tegangan breakdown-nya. 
Simbol dari DIAC adalah seperti yang ditunjukkan pada gambar-8b. DIAC umumnya dipakai sebagai pemicu TRIAC agar ON pada tegangan input tertentu yang relatif tinggi. Contohnya adalah aplikasi dimmer lampu yang berikut pada gambar-9.
Gambar 9 : Rangkaian Dimmer
Jika diketahui IGT dari TRIAC pada rangkaian di atas 10 mA dan VGT = 0.7 volt. Lalu diketahui juga yang digunakan adalah sebuah DIAC dengan Vbo = 20 V, maka dapat dihitung TRIAC akan ON pada tegangan :
V = IGT(R)+Vbo+VGT = 120.7 V
Gambar-10 : Sinyal keluaran TRIAC
Pada rangkaian dimmer, resistor R biasanya diganti dengan rangkaian seri resistor dan potensiometer. Di sini kapasitor C bersama rangkaian R digunakan untuk menggeser phasa tegangan VAC. Lampu dapat diatur menyala redup dan terang, tergantung pada saat kapan TRIAC di picu.

untuk data sheet silahkan unduh di sini 
sumber data : http://electroniclab.com, lab. Telkom Polteknik Ujung Pandang

All About Solenoid Valve

0
com
A solenoid valve is an electromechanical valve for use with liquid or gas. The valve is controlled by an electric current through a solenoid: in the case of a two-port valve the flow is switched on or off; in the case of a three-port valve, the outflow is switched between the two outlet ports. Multiple solenoid valves can be placed together on a manifold.
Solenoid valves are the most frequently used control elements in fluidics. Their tasks are to shut off, release, dose, distribute or mix fluids. They are found in many application areas. Solenoids offer fast and safe switching, high reliability, long service life, good medium compatibility of the materials used, low control power and compact design.
Besides the plunger-type actuator which is used most frequently, pivoted-armature actuators and rocker actuators are also used.

A solenoid valve has two main parts: the solenoid and the valve. The solenoid converts electrical energy into mechanical energy which, in turn, opens or closes the valve mechanically. A direct acting valve has only a small flow circuit, shown within section E of this diagram (this section is mentioned below as a pilot valve). This diaphragm piloted valve multiplies this small flow by using it to control the flow through a much larger orifice.
Solenoid valves may use metal seals or rubber seals, and may also have electrical interfaces to allow for easy control. A spring may be used to hold the valve opened or closed while the valve is not activated.
A- Input side
B- Diaphragm
C- Pressure chamber
D- Pressure relief conduit
E- Solenoid
F- Output side
The diagram to the right shows the design of a basic valve. At the top figure is the valve in its closed state. The water under pressure enters at A. B is an elastic diaphragm and above it is a weak spring pushing it down. The function of this spring is irrelevant for now as the valve would stay closed even without it. The diaphragm has a pinhole through its center which allows a very small amount of water to flow through it. This water fills the cavity C on the other side of the diaphragm so that pressure is equal on both sides of the diaphragm. While the pressure is the same on both sides of the diaphragm, the force is greater on the upper side which forces the valve shut against the incoming pressure. In the figure, the surface being acted upon is greater on the upper side which results in greater force. On the upper side the pressure is acting on the entire surface of the diaphragm while on the lower side it is only acting on the incoming pipe. This results in the valve being securely shut to any flow and, the greater the input pressure, the greater the shutting force will be.
In the previous configuration the small conduit D was blocked by a pin which is the armature of the solenoid E and which is pushed down by a spring. If the solenoid is activated by drawing the pin upwards via magnetic force from the solenoid current, the water in chamber C will flow through this conduit D to the output side of the valve. The pressure in chamber C will drop and the incoming pressure will lift the diaphragm thus opening the main valve. Water now flows directly from A to F.
When the solenoid is again deactivated and the conduit D is closed again, the spring needs very little force to push the diaphragm down again and the main valve closes. In practice there is often no separate spring, the elastomer diaphragm is moulded so that it functions as its own spring, preferring to be in the closed shape.
From this explanation it can be seen that this type of valve relies on a differential of pressure between input and output as the pressure at the input must always be greater than the pressure at the output for it to work. Should the pressure at the output, for any reason, rise above that of the input then the valve would open regardless of the state of the solenoid and pilot valve.
In some solenoid valves the solenoid acts directly on the main valve. Others use a small, complete solenoid valve, known as a pilot, to actuate a larger valve. While the second type is actually a solenoid valve combined with a pneumatically actuated valve, they are sold and packaged as a single unit referred to as a solenoid valve. Piloted valves require much less power to control, but they are noticeably slower. Piloted solenoids usually need full power at all times to open and stay open, where a direct acting solenoid may only need full power for a short period of time to open it, and only low power to hold it.

Types

Many variations are possible on the basic, one way, one solenoid valve described above:

Common uses

Solenoid valves are used in fluid power pneumatic and hydraulic systems, to control cylinders, fluid power motors or larger industrial valves. Automatic irrigation sprinkler systems also use solenoid valves with an automatic controller. Domestic washing machines and dishwashers use solenoid valves to control water entry to the machine. In the paintball industry, solenoid valves are usually referred to simply as "solenoids." They are commonly used to control a larger valve used to control the propellant (usually compressed air or CO2). In the industry, "solenoid" may also refer to an electromechanical solenoid commonly used to actuate a sear.
Besides controlling the flow of air and fluids solenoids are used in pharmacology experiments, especially for patch-clamp, which can control the application of agonist or antagonist.